Novel 7 Cahaya Cinta

novel 7 cahaya cinta

Novel ini merupakan novel terbitan baru pada 13 april 2015 yang lalu. Novel 7 cahaya cinta ditulis oleh seorang penghulu muda Muhammad Fais Arrauhi, yang tergerak hatinya untuk menulis kisah haru dari pengalaman salah seorang pengantin yang dinikahkannya, Syahid, seorang yang cacat dan telah ditinggalkan ayahnya sejak dari kecil. Buku novel 7 cahaya cinta ini sangat patut dibaca oleh para pembaca dan para jomblo jomblo yang masih takut menikah.

Bagaimana kisah sang pengantin ini sehingga menggelitik hati penulis untuk merangkai kata kata dalam novel 7 cahaya cinta ini, baca sinopsis dibawah ini.

Kisah inspiratif

Syahid dikenal sebagai pemuda cacat yang sangat gigih dan tidak pernah menyerah akan keadaan. Kejadian tragis menimpa dirinya, sebuah kecelakaan bersama ayahnya saat ia masih balita membuatnya harus menerima ketetapan bahwa ia tak bisa tumbuh secara normal. Syahid mengalami penyempitan syaraf. Ayah Syahid tak bisa tertolong, kecelakaan itu menjadikan dirinya anak yatim. Sejak saat itu umminya mengasuh dan membesarkan Syahid seorang diri.
Seiring berjalannya usia, kondisi Syahid bukannya membaik, namun hari demi hari syaraf yang menggerakkan tubuhnya justru semakin lemah ia rasakan. Berbagai pengobatan telah ummi Syahid tempuh dan lakukan namun sepertinya kondisinya sangat sulit dipulihkan. Bahkan dengan kondisinya yang semakin lemah dan nyaris mengalami kelumpuhan, dokter memperkirakan dirinya kemungkinan hanya mampu bertahan hidup di usia 30 tahunan saja. Akan tetapi baik Syahid maupun umminya tidak pernah memusingkan hal tersebut, baginya tak masalah Allah menetapkan berapa lama umur dirinya, selama ia masih diberikan kesempatan hidup maka umur itu harus berkah dan manfaat. Karenanya dalam kesehariaannya meskipun ia harus beraktifitas menggunakan tongkat kruk bahkan sesekali harus menggunakan kursi roda, namun semangat kebaikannya tak mengenal kata lelah apalagi menyerah. Syahid selalu bangkit hingga di tengah keterbatasan yang ia miliki, ia tetap belajar dan menambah skill dan pengetahuan keagamaan. Pemuda yang juga aktif dalam komunitas bloger itu juga mencoba untuk terus belajar memanfaatkan peluang bisnis di dunia online, hingga pundi-pundi rezeki bisa ia dapatkan. Bahkan ia mampu menjadi penopang kebutuhan umminya yang telah mulai menua.

Syahid (25th) juga merupakan santri kalong yang setiap sorenya ikut aktif mengikuti pengajian disebuah Pondok Pesantren di wilayah pinggiran kota Surabaya. Sore itu Syahid memperhatikan begitu seksama pengajian Gus Amar yang tengah membahas fiqih pernikahan. Gus Amar menyingung tentang Tujuh motivasi kenapa seseorang harus menikah. Pembahasan malam itu seolah begitu menyentuh bagi Syahid. Beliau menyampaikan bahwa pernikahan merupakan jalan para anbiyaa’ dan akhlak mereka. Gus Amar membahas Hadits Rasulullah dimana;“Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” Gus Amar juga menyinggung spirit pernikahan para sahabat. “Abdullah bin Mas’ud r.a beliau pernah berkata; Seandainya umurku hanya tinggal 10 hari saja untuk aku hidup, niscaya yang kusukai ialah menikah agar aku tidak menemui Allah s.w.t. (mati) dalam keadaan membujang. Sewaktu wabah penyakit tha’un melanda negeri Mesir, dua orang istri sayyidina Mu’adz r.a. meninggal dunia akibat penyakit tersebut. Dan ketika beliau sendiri diserang penyakit tha’un, beliau juga berkata: Nikahkanlah aku ! Aku tidak suka menemui Allah s.w.t. dalam keadaan membujang. Imam Ahmad bin Hanbal r.a. Bahkan menikah pada hari kedua setelah kematian isterinya. Beliau berkata: Aku tidak suka bermalam dalam keadaan bujang.

Sejak saat itu Syahid bertekad untuk menikah sebelum ajal menjemput. Dengan bantuan Gus Amar, Syahid di ta’arufkan dengan seorang santriwati pesantren yang bernama Zahra. Syahid sempat jatuh cinta dengan santriwati tersebut. Gayungpun sempat bersambut karena Zahra juga jatuh hati kepadanya, namun saat Syahid hendak mengkhitbah Zahra ternyata orang tuanya tidak menyetujuinya. Iapun sempat putus asa, akan tapi teman-temannya terus memberikan memotivasi hingga ia kembali bangkit.
Tak mau menyerah Syahidpun mencoba mencari jodoh di dunia maya, ia aktif mengajak para gadis untuk berkenalan dengan dirinya. Suatu malam Umminya membaca sebuah pesan FB dari seorang gadis inbox account pribadi Syahid. Gadis itu menghina putra semata wayangnya tersebut. dengan tautan kata-kata yang sangat melecehkan. Umminya seperti tidak terima hingga sejak saat itu Ummi Syahid bertekad untuk ikut membantu anaknya mencarikan jodoh. Ikhtiarpun dimulai, Ummi mulai aktif bertanya pada teman-temannya, baik setiap Ummi Syahid arisan ataupun menghadiri pengajian di majelis ta’lim. Hal itu membuat semua teman-teman arisan dan majelis ta’lim begitu iba dan simpatik, meskipun begitu, anehnya tidak ada satupun dari mereka yang menawarkan anak gadisnya untuk minimal dikenalkan pada putranya tersebut. Melihat kegigihan Ummi Syahid, Ustadzah Laila sangat prihatin dan iba, terbesitlah keinginan ustadzah untuk membantu ikhtiar ummi Syahid. Tiba-tiba ustadzah teringat kalau dia punya teman lama di Jakarta, dan masih sering saling bertukar informasi tentang kondisi keluarga mereka masing masing.

Akhirnya Ummi Syahid, diajak ustadzah Laila dan suaminya nekad datang ke Jakarta dan berniat untuk langsung mengkhitbahkannya putri temannya tersebut untuk Syahid. Kedatangan mereka ke Jakarta membuat keluarga pak Hasan terkejut, apalagi mereka langsung menyampaikan niatnya untuk mengkhitbah putri pak Hasan yang bernama Khumaira’. Khumaira’ adalah gadis cantik yang berprofesi sebagai guru di sebuah Madrasah Tsanawiyah Swasata Cilincing di pesisir laut Jakarta Utara. Akhirnya keluarga Pak Hasan meminta waktu untuk berunding dengan keluarga dan berkonsultasi dengan Penghulu KUA. Praharapun terjadi karena keluarga Khumaira’ sangat tidak setuju jika pak Hasan menikahkan putrinya dengan seorang pemuda yang cacat. Tapi diluar dugaan setelah Khumaira’ beristikharah, dan membaca CV Syahid yang menyampaikan tujuh spririt kenapa ia ingin sekali segera menikah, Entah kenapa hati May tiba-tiba luluh. ia seperti memperoleh keyakinan bahwa Syahid adalah seseorang yang sengaja dikirimkan Allah untuk ditetapkan menjadi jodohnya. Sejak saat itulah May justru berbalik meyakinkan kedua orang tuanya untuk segera menerima khitbah Syahid.
Khitbah Syahid akhirnya diterima dan tak berlama-lama pernikahanpun dilangsungkan. Suasana majelis akad tampak penuh haru biru melihat kebesaran Allah ini. Dengan segala keterbatasannya Syahid akhirnya bisa menyempurnakan setengah agamanya. Dalam sebuah bulan madu kecil, Khumaira’ tampak begitu sabar mendampingi suaminya yang cacat tersebut. Akan tetapi suatu hari keharmonisan mereka mulai diuji. Semua itu terjadi karena ternyata diluar dugaan penyakit penyempitan syaraf yang ia derita menyebar lebih cepat. Dan hal ini berakibat Syahid tak mampu menggauli istrinya. Syahid merasa bersalah dengan keadaannya. Jiwanya bergolak dan terjadi perang batin yang dahsyat. “Ya Robb, sungguh berdosa hamba bila menikah tapi tak mampu menafkahi batin istri hamba”. Akhirnya Syahid sempat menjatuhkan talak satu ke istrinya. Padahal Khumaira’ terus meyakinkan Syahid, bahwa ia benar-benar ikhlas dan tidak mempersoalkan keadaan suaminya tersebut. Baginya jodoh adalah ketetapan takdir yang harus ia terima dengan sikap tawakal. Ia hanya inginkan Ridho suaminya agar kelak bisa kembali berkumpul di surgaNya. Karena saat disurga nanti ia yakin Syahid akan mempunyai kemampuan untuk melakukan segalanya.

Setelah kembali dirujukkan oleh Gus Amar, merka berkomitmen untuk merekatkan hubungan pernikahan mereka kembali, akhirnya mereka sepakat untuk melakukan pembuahan bayi tabung disebuah rumah sakit. Berulang kali dilakukan percobaan akan tetapi tak kunjung berhasil. Faktor ketidak berhasilannya adalah karena Syahid mengalami gagal ereksi. Kedua pasangan tersebut terus berikhtiar dan berdo’a dan akhirnya keajaiban pun terjadi. Dokter menyatakan bahwa pembuahan diluar rahim berhasil. Bayi tabungpun berhasil ditanamkan ke rahim Khumairah. Tapi Rupanya keberhasilan itu harus dibayar mahal oleh Syahid. Kondisi Syahid drop pasca operasi hal itu kemungkinan besar dikarenakan dia banyak mengkonsumsi obat-obatan pemacu saraf untuk memacu stamina kejantanan. Semakin lama kondisinya makin turun hingga akhirnya kecelakaan kecil membuatnya jatuh koma di rumah sakit. Kesedihan berselimutkan cinta terjadi selama koma, Khumaira’ tak pernah lelah menemani hari-hari Syahid agar ia segera sadar dari koma. Hingga memasuki Sembilan bulan kehamilan Khumaira’ Syahid masih saja terbaring lemah tak berdaya. Tapi anugerah Allah Khumaira’ dapatkan, ia akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki dengan normal.

Setelah persalinan Khumaira’ membawa bayinya dan ia dekatkan ke Syahid yang masih koma. Mendengar tangisan sang bayi laki-lakinya Syahid mulai menunjukkan respon positif. Lantas apakah kehadiran sang bayi mampu membuat Syahid sadar?Bagaimana kehidupan cinta Khumaira’ bersama buah hati dan suaminya?

Nah itulah gambaran kisah seorang Syahid pada (novel 7 cahaya cinta) yang cacat dengan liku-liku hidupnya. Untuk membaca Novel ini, siapkan tissue yang banyak, karena kisah ini akan banyak memeras air mata anda. Untuk mengetahui ending dari kisah tersebut silahkan anda dapatkan buku yang sangat bagus ini melalui kontak no HP/WA  0812-8805-3030 PIN BB 2A3BA68C.

Harga Normal Rp 40.000,- dapat diskon khusus kepada pembeli yang menghubungi nomor tersebut diatas dengan menyebutkan referensi dari  blog www.noor-hidayat.com

Comments are closed.

WP Like Button Plugin by Free WordPress Templates